Selasa, 19 April 2011

Benarkah Ajax Amsterdam Klub Sepakbola Yahudi?

Di tribun, sambil melambaikan bendera Israel dan bendera kelompok suporter garis keras berbintang David biru, para suporter Ajax meneriakkan dengan lantang “Yahudi Yahudi (Joden, Joden!).”

http://i3.bebo.com/046a/1/mediuml/2008/08/29/21/4679665503a8763097715ml.jpg

Sudah beberapa dekade terakhir Ajax dipandang sebagai klub sepakbola Yahudi Belanda. Uniknya, sejarah menunjukkan sedikit sekali latar belakang Yahudi dalam Ajax.
http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/41795_18282093504_2221631_n.jpg
Menurut Uri Coronel, Ketua Harian Ajax (pemeluk Yahudi), Ajax sama sekali bukan klub Yahudi; “Ajax adalah klub dengan sedikit sekali pemain dan suporter pemeluk agama Yahudi. Tidak banyak umat Yahudi dalam Ajax. Memang Ajax mempunyai imago Yahudi dan banyak sekali fans yang meneriakkan Yahudi, Yahudi, tapi bisa saja mereka sama sekali bukan orang Yahudi.”
Latar belakang menunjukkan sedikit sekali hubungan Ajax dengan komunitas Yahudi. Jurnalis olahraga Simon Kuper menyelidiki hal ini untuk penulisan bukunya ´Ajax, Yahudi, Belanda´ (Ajax, De Joden, Nederland) dan tidak menemukan hubungan apapun. “Sepanjang sejarah, Ajax tidak pernah menjadi klub Yahudi. Sebelum PD-II, klub asal Amsterdam ini merupakan milik kelas menengah, miliknya para administrator dan orang-orang yang memiliki perusahaan sendiri. Kebanyakan orang Yahudi terlalu miskin untuk menjadi anggota Ajax.”
http://afcawsp.web-log.nl/photos/uncategorized/ajax__fside_vlag_groot.jpg
“Basis Ajax terletak di Amsterdam Timur, daerah dimana banyak orang Yahudi bermukim. Jadi logis jika banyak dari mereka yang hadir di tribun menonton pertandingan, di antara penonton lainnya. Kombinasi penonton Ajax ini merupakan refleksi cantik keadaan Amsterdam sebelum pecahnya perang. Memang ada beberapa klub sepakbola khusus Yahudi di Amsterdam, tapi Ajax pasti bukan salah satunya.
http://konspirasi.com/wp-content/uploads/2011/04/image-142.jpg
Kebangkitan Yahudi
Pada Perang Dunia II, sekitar 75 persen populasi kaum Yahudi di Amsterdam dibasmi oleh Nazi. Setelah perang usai hanya beberapa orang Yahudi yang terlihat di tribun Ajax. Di awal tahun 70, bangkitlah zaman keemasan Ajax di bawah pimpinan Jaap van Praag. Kuper: “Saya memiliki kesan bahwa orang-orang Yahudi yang tersisa saling bertemu kembali di Ajax. Presiden Ajax saat itu adalah Yahudi, tukang pijat klub, sejumlah investor dan beberapa pemain kunci merupakan setengah Yahudi.”
Menurut presiden Ajax, Coronel, lingkungan Ajax yang bernuansa Yahudi di tahun 70-an janganlah diinterpretasi berlebihan. “Lah, memang kebanyakan orang Yahudi tinggal di Amsterdam, ya tentu saja mereka bukan fansnya Feyenoord (klub asal Rotterdam, red). Simpel aja; orang Yahudi Amsterdam yang suka sepakbola ya pasti mendukung Ajax.”
Diam-diam Bangga
Awal tahun 1980, para hooligan-lah (saat itu fenomena baru) yang bertanggung jawab membentuk citra Ajax sebagai klub Yahudi. Berkat kegemaran mereka meneriakkan yel-yel lantang. Kuper: “Sejarah mencatat Amsterdam dipandang sebagai kota Yahudi, sehingga Ajax dipandang sebagai klub Yahudi, jadi pantas saja ada yel-yel anti-Semit yang diteriakkan. Para penggemar Ajax kemudian melihat teriakan sebagai julukan ciri khas; kalau orang-orang melihat kami sebagai Yahudi, yaa maka kami adalah orang Yahudi.
Uri Coronel: “Saya diam-diam bangga, keren juga. Saya tidak keberatan sama sekali pendukung Ajax meneriakkan “kami adalah orang Yahudi,” walaupun mereka sama sekali tidak demikian.” Dia ingat beberapa waktu lalu Ajaxieden, pemain Ajax, di Israel disambut sebagai pahlawan di laga tandang. Tapi ada juga sisi negatifnya: “Identitas ini membangkitkan sesuatu dari pihak lawan yang saya benar-benar tak bisa terima. Makanya, saya lebih senang jika ini dihentikan saja.”
Salam Hitler
Reaksi-reaksi negatif yang kerap terdengar di sana sini misalnya berupa teriakan seperti “Ajax-Yahudi Super-Yahudi. “Atau hembusan “Sssshh..” dari suporter lawan yang berasosiasi dengan kamar gas dari PD-II. Yang terbaru dan sedang populer adalah “Hamas, Hamas, Yahudi Digas.”
Sebagai pimpinan AjAx, Coronel juga sudah kenyang mendengar yel-yel semacam itu. “Awal tahun 90-an kami pernah mengalami disambut pagar fans Feyenoord yang menirukan gestur salam Hitler sepanjang bus kami memasuki stadion Kuip. Di FC Utrecht massa semangat meneriakkan “Mati kamu Yahudi.” Pada musim pertandingan lalu para pemain ADO Den Haag ada yang berceletuk “Yahudi bangsat!” di kamar ganti. Memang celetukan-celetukan itu bisa saja tidak bermaksud anti-Semit, tapi kan tetap saja terdengar tak nyaman di kuping kaum Yahudi.
Sanksi
Baru-baru ini Ajax, ADO Den Haag dan KNVB (Persatuan Sepakbola Belanda), sepakat berencana melakukan aksi serius melawan tindakan ofensif dan diskriminatif. Rekaman film dari pertandingan kandang ADO Den Haag memicu terbitnya rencana tersebut. Pendukung, anggota dewan dan para pemain, setelah menang atas Ajax, bersama-sama menyanyikan “Kami akan memburu orang-orang Yahudi.”
Ketua Ajax, Coronel, sangat meragukan rencana akan mengakhiri nyanyian-nyanyian ofensif atas Yahudi. “Itu hanya akan berakhir bila ada hukum ketat dengan sanksi yang keras, dimana orang yang melanggarnya dilarang memasuki stadion selama 10 tahun ke depan. Baru deh kalau begitu teriakan mungkin berakhir.”(rnw)

sumber
Share on :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
© Copyright Detektif Anda 2011