Minggu, 17 April 2011

Mengapa Orang Lain Mendengar Suara Kita Berbeda Dari Yang Kita Dengar Sendiri?

Mungkin kita semua pernah mengalami kejadian ini. Kita mendengarkan rekaman suara kita ketika sedang berbicara dengan beberapa teman. Kita bersikeras itu bukan suara kita tapi semua orang yang lain setuju bahwa itu suara kita.
Menurut ahli terapi suara Dr. Mike D’Asaro, ada sebuah pola universal dari ‘penolakan’ seseorang terhadap suaranya sendiri. Apakah ada penjelasan medis terhadap hal itu?
Ada. Suara bermula dari pangkal tenggorokan, tempat getaran dihasilkan. Sebagian getaran disampaikan melalui udara – itulah yang didengarkan oleh teman-teman kita (dan alat perekam suara) ketika kita berbicara.
Sebagian getaran lainnya merambat melalui zat cair dan zat padat yang ada di dalam kepala kita. Bagian dalam dan tengah telinga kita adalah bagian berongga yang diselimuti oleh tulang terkeras dari tengkorak. Telinga bagian dalam berisi cairan, telinga bagian tengan berisi udara, dan keduanya saling menekan.
Pangkal tenggorokan juga dilapisi oleh lapisan-lapisan tipis penuh cairan. Suara yang merambat lewat udara berbeda dengan yang merambat melalui zat padat dan zat cair, dan perbedaan ini mempengaruhi untuk hampir semua perbedaan suara yang kita dengan di dalam rekaman.
Ketika kita berbicara, kita tidak hanya mendengarkan suara kita sendiri lewat telinga, tetapi juga melalui pendengaran internal, sebuah transmisi yang didominasi oleh cairan melalui sejumlah organ tubuh.
Jadi, ketika sebuah gitar listrik dimainkan, siapakah yang mendengar suara aslinya? Para penonton, sang gitaris, atau perekam suara di dalam gitar tersebut? Pertanyaan ini dapat menimbulkan perdebatan.
Pernahkah Anda bernyanyi di tempat karaoke? Suara yang kita dengar sedikit berbeda dengan yang keluar dari speaker. Perasaan Anda berkata: “Ini bukan suara saya, mirip tapi beda”.
Ada tiga jenis suara berbeda yang dibuat oleh sang gitaris, dan prinsipnya sama dengan prinsip suara manusia. Kita tidak dapat menyebutkan yang mana yang mendengar suara aslinya, yang dapat kita yakini hanyalah ketika objek tersebut mendengarkan suara yang berbeda.
Dr. Asaro menyebutkan bahwa kita mempunyai memori internal mengenai suara kita di dalam otak, dan memori ini lebih kaya daripada yang kita dengar dalam alat perekam suara.
Mendengarkan suara kita sendiri melalui alat perekam suara sama saja dengan mendengarkan siaran di radio yang transistornya sudah rusak, dapat dikenali namun bersifat tiruan.
Share on :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
© Copyright Detektif Anda 2011