Senin, 14 Maret 2011

Bunga Safron penghasil rempah termahal di dunia

Kuma-kuma tumbuh subur di iklim yang mirip dengan Maquis shrubland di Mediterania atau kaparal di Amerika Utara, dengan angin musim panas yang kering berhembus melewati tanah kering atau semi kering. Walaupun demikian, tanaman bisa bertahan dalam musim dingin yang membeku, tahan terhadap embun beku sampai kira-kira −10 °C atau tertutup salju untuk sementara waktu.
Kuma-kuma paling sesuai ditanam di daerah yang memiliki banyak hujan di musim semi namun relatif kering di musim panas. Selain itu, hujan yang turun sebelum musim berbunga bisa menambah panen kuma-kuma. Sebaliknya, hujan atau cuaca dingin selama masa berbunga meningkatkan kemungkinan tanaman terserang penyakit dan mengurangi hasil panen. Cuaca yang terus-menerus panas atau lembab juga mengurangi hasil panen, begitu pula hewan pengganggu, seperti: kelinci, tikus, dan burung. Parasit seperti nematoda, penyakit karat daun, dan kebusukan subang juga merupakan ancaman bagi tanaman ini.

Berat basah hasil panen bukan safron berat kering.

Tanaman tumbuh subur di tempat yang banyak terkena sinar matahari, dan tidak tumbuh dengan baik di tempat yang teduh. Kuma-kuma sebaiknya ditanam di tanah yang memiliki kemiringan sehingga bisa banyak mendapat sinar matahari. Di belahan bumi utara, waktu penanaman yang terbaik di bulan Juni.

Selanjutnya, kuma-kuma terus berbunga selama 1—2 minggu Sekitar 150 kuntum bunga bisa menghasilkan 1 gram safron kering. Berdasarkan perhitungan ini, 1 kilogram bunga diperlukan untuk menghasilkan 12 gram safron kering (72 gram sewaktu baru dipanen). Sekuntum bunga yang baru dipetik rata-rata menghasilkan 0,03 gram safron segar, atau 0,007 gram safron kering.


Pemakaian saffron tidak bisa terlalu banyak karena sejumput saffron saja sudah mampu memberi warna kuning terang dan keharuman yang unik sekali. Terlalu banyak bisa membuat makanan jadi pahit.


Berikut beberapa fakta, memilih dan menggunakan saffron:


Makin merah benang saffron makin kuning warna yang akan dihasilkan.
Saffron untuk suplai kebutuhan kuliner di dunia ditanam di Spanyol, Iran, Kashmir, India, Italia dan Yunani, sementara negara-negara lain yang menanam saffron hanya dalam skala kecil.
Saffron dikemas dalam bentuk stigma kering, ujung stigma yang dipotong, atau bentuk bubuk.
Kualitas saffron tertinggi adalah berwarna merah gelap, dan tidak belang-belang. Aroma flora-nya segar.
Saffron bubuk berwarna lebih terang dari benang. Makanya harus diwaspadai kemungkinannya dicampur dengan bubuk kunyit. Belilah produk-produk dari negara-negara di point ke 2.
Waspadai saffron berasal dari Meksiko dan beberapa wilayah di Timur Tengah karena yang disebut saffron ternyata adalah yang berasal dari kelopak bunga Krisan (chrysanthemum) yang tidak beraroma atau tidak berwarna terang. (Waspadai juga saffron yang berasal dari Ubud, Bali, karena yang disebut saffron adalah kelopak dari African Marigold)
Saffron akan pudar warna dan wanginya kalau sudah terlalu lama disimpan, jadi sebisanya digunakan dalam kurun waktu setahun setelah saat produksi.
Simpanlah saffron di dalam toples gelas di tempat yang sejuk dan tidak lembab.
Untuk mendapatkan warna yang lebih, saffron dapat ditumbuk.
Sejumput (12-15 benang saffron) cukup untuk masakan porsi 4-6 orang.
Rendam saffron dalam air panas selama mungkin sebelum digunakan. Untuk membuat cairan dari saffron, masukkan saffron ke dalam mangkuk lalu siramlah dengan 6 sendok makan air panas.
Makin banyak memakai saffron makin gelap warnanya, tetapi disarankan memakai saffron jangan terlalu banyak untuk menghindari hasil masakan yang pahit dan keharuman yang terlalu kuat.

Harganya
Safron memiliki rasa khas sedikit pahit dan berbau harum seperti iodoform atau rumput kering yang disebabkan zat kimia bernama picrocrocin dan safranal.Safron mengandung crocin, salah satu bahan pewarna karotenoid yang membuat makanan menjadi kuning keemasan. Warna kuning terang safron menjadikannya sebagai rempah-rempah yang paling banyak dicari orang di dunia. Dalam pengobatan tradisional, safron digunakan sebagai obat berbagai macam penyakit.
Dalam bahasa Melayu, safron disebut koma-koma dan merupakan bumbu yang membuat nasi briyani (nasi beryani) menjadi berwarna kuning. Dalam bahasa Arab, safron ini disebut Za'faran , yang berasal dari kata aṣfar (أَصْفَر) yang berarti "kuning". Dalam bahasa Inggris ditulis sebagai saffron, diambil dari bahasa Perancis Kuna safran yang berasal dari bahasa Latin safranum.
Kuma-kuma atau safron (saffron) adalah nama untuk rempah-rempah dari bunga Crocus sativus, sekaligus nama umum untuk tanaman Crocus sativus dari marga crocus famili Iridaceae.
Bunga kuma-kuma memiliki tiga kepala putik yang terletak distal terhadap daun buah. Bagian tangkai putik, yang menghubungkan stigma dengan bagian bunga paling dalam, sering dikeringkan dan disebut safron yang dipakai sebagai bumbu masakan dan bahan pewarna.
Tanaman kuma-kuma berasal dari Asia Barat Daya, dan safron bertahan sebagai komoditas rempah menurut timbangan berat yang termahal di dunia selama beberapa dekade. Tanaman ini pertama kali dibudidayakan di sekitar Yunani.

Satu pon (450 gram) safron kering berasal dari 50.000–75.000 kuntum bunga yang ditanam di lahan sebesar lapangan sepak bola[55][56] Panen 150.000 kuntum bunga membutuhkan kerja keras selama 40 jam siang-malam.[57] Setelah diambil dari bunga, tangkai putik mudah menjadi kering dan (sebaiknya) disimpan di dalam wadah kedap udara.[58]
Harga safron di tingkat pedagang grosir dan eceran berkisar antara 500 dolar AS per pon hingga 5.000 dolar AS per pon (US$1.100–US$11.000 per kilogram). Di negara-negara Barat, harga eceran rata-rata adalah $1.000 per pon (US$2200 per kilogram).[1] Satu pon safron terdiri dari 70.000 hingga 200.000 tangkai putik. Ciri khas safron segar adalah warna merah terang, sedikit lembab, elastis, dan tidak mudah hancur.

CKCKCKCKCK...Mahal banget ya gan......
Share on :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
© Copyright Detektif Anda 2011